FRASA.ID,KUTAI BARAT – Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Barat, FX Sumardi, menyampaikan bahwa pelaksanaan Festival Sempekat Harmoni Budaya Kutai Barat 2026 sengaja digelar pada bulan Juni yang dikenal sebagai Bulan Bung Karno. Hal tersebut disampaikan dalam laporan panitia pada pembukaan Festival Sempekat Harmoni Budaya di Taman Budaya Sendawar (TBS), Selasa (2/6/2026) malam.
Menurut Sumardi, pemilihan bulan Juni memiliki makna tersendiri karena bertepatan dengan bulan kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang lahir pada 1 Juni 1901. Selain itu, nilai-nilai Trisakti yang diwariskan Bung Karno dinilai selaras dengan semangat festival yang mengangkat budaya sebagai identitas daerah.
“Bung Karno dikenal dengan Trisakti, yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Semoga Festival Sempekat Harmoni Budaya ini dapat menjadi agenda tetap yang terus mendapat dukungan dan berkembang dari tahun ke tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan, festival tersebut memiliki sejumlah tujuan strategis, di antaranya melestarikan nilai-nilai budaya dan tradisi daerah sebagai warisan leluhur, meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap seni budaya lokal, mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, memberikan ruang ekspresi bagi seniman dan pelaku budaya, serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kabupaten Kutai Barat.
Sumardi mengatakan, Festival Sempekat Harmoni Budaya juga diharapkan menjadi penghubung menuju Festival Dahau yang selama ini menjadi agenda budaya terbesar di Kutai Barat.
Kegiatan ini juga merupakan bagian dari Calendar of Event Kabupaten Kutai Barat Tahun 2026 yang telah diluncurkan Dinas Pariwisata pada Februari lalu.
“Harapan kami, seluruh event yang masuk dalam kalender pariwisata ini dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi para pelaku UMKM di Kutai Barat,” katanya.
Sumardi menegaskan bahwa pelaksanaan festival ini juga merupakan bentuk dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat terhadap perkembangan sanggar-sanggar seni yang semakin banyak tumbuh di berbagai kampung.
“Kami ingin memberikan ruang bagi sanggar seni untuk menunjukkan kreativitas dan bakat mereka. Festival ini menjadi wadah bagi para pelaku seni budaya untuk tampil dan berkembang,” jelasnya.
Pelaksanaan Festival Sempekat Harmoni Budaya 2026 didukung melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kutai Barat melalui Dinas Pariwisata, serta mendapat dukungan dari berbagai sponsor, perbankan, perusahaan, komunitas seni budaya, dan aparat keamanan.
Di akhir laporannya, Sumardi berharap Festival Sempekat Harmoni Budaya dapat berkembang menjadi agenda pariwisata budaya unggulan Kabupaten Kutai Barat yang mampu memperkuat identitas daerah, meningkatkan kunjungan wisatawan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan wisata budaya di berbagai destinasi wisata daerah. Keberhasilan Kampung Tanjung Isuy yang meraih predikat Desa Budaya Terbaik III Nasional pada 2025 diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain di Kutai Barat.
“Ke depan, wisatawan yang datang tidak hanya menikmati wisata alam, tetapi juga dapat menyaksikan atraksi budaya yang menjadi ciri khas daerah. Inilah yang ingin terus kita dorong agar budaya menjadi lokomotif peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Kutai Barat,” pungkasnya.






