FRASA.ID, NASIONAL– Cara menyeduh kopi ternyata bisa berdampak besar terhadap kadar kolesterol dalam tubuh. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrition, Metabolism, and Cardiovascular Diseases tahun 2025 menyebutkan bahwa senyawa alami dalam kopi, seperti cafestol dan kahweol, berperan dalam peningkatan kolesterol, terutama jika kopi dikonsumsi tanpa disaring.
Penelitian tersebut membandingkan sampel kopi dari berbagai lingkungan—termasuk kopi yang diseduh di rumah dan di tempat kerja—untuk mengukur kandungan senyawa diterpena tersebut. Hasilnya, ditemukan bahwa kopi tanpa saringan mengandung cafestol dan kahweol dalam kadar yang jauh lebih tinggi, yakni masing-masing 939 dan 678 miligram per liter. Namun, ketika kopi disaring, kadar tersebut menurun drastis menjadi hanya 28 dan 21 miligram per liter.
Senyawa diterpena ini diketahui mampu menghambat proses pembentukan asam empedu dan memengaruhi metabolisme kolesterol di hati. Dampaknya, kadar kolesterol total, khususnya kolesterol LDL (kolesterol jahat), bisa meningkat signifikan.
Risiko Bagi Jantung
Ahli jantung dari UTHealth Houston, Dr. John Higgins, mengingatkan bahwa meskipun secangkir kopi mungkin tidak berbahaya, konsumsi dua hingga tiga cangkir kopi tanpa saringan setiap hari dapat menaikkan LDL sebanyak 10 hingga 20 mg/dL hanya dalam beberapa minggu.
“Efek ini bahkan bisa lebih besar dari konsumsi lemak jenuh dalam jumlah sedang,” ujar Higgins, yang membandingkannya dengan efek karbohidrat dan lemak pada kadar kolesterol.
Ia juga menjelaskan bahwa peningkatan LDL yang disebabkan oleh cafestol berpotensi memperparah risiko kardiovaskular, terutama bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit jantung. Penumpukan kolesterol di arteri dapat memicu pembentukan plak, menyumbat aliran darah, dan meningkatkan risiko serangan jantung.
Saring Sebelum Diseduh
Sebagai langkah pencegahan, Higgins menyarankan agar pecinta kopi memilih metode seduh yang menggunakan penyaring. Menurutnya, langkah sederhana ini mampu menurunkan asupan cafestol secara signifikan, sehingga lebih aman bagi kesehatan jantung.
Saran senada datang dari Bryan Quoc Le, ilmuwan makanan dan pendiri Mendocino Food Consulting. Ia menambahkan bahwa konsentrasi diterpena dalam kopi juga bergantung pada asal biji kopi dan teknik penyeduhan yang digunakan.
“Kuncinya adalah keseimbangan,” ujar Le. “Minum secangkir kopi tanpa saringan sesekali tidak akan berdampak besar, tetapi konsumsilah dengan bijak.”
Manfaat Lain Tetap Ada
Kendati demikian, keduanya menggarisbawahi bahwa kopi juga memiliki banyak manfaat berkat kandungan polifenol seperti flavonoid dan asam fenolik yang berfungsi sebagai antioksidan. Senyawa ini dapat membantu melindungi tubuh dari stres oksidatif dan penyakit kronis lainnya.
Kesimpulannya, kopi tetap bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat selama disiapkan dengan cara yang tepat dan dikonsumsi secara moderat. Bagi mereka yang memiliki riwayat kolesterol tinggi atau penyakit jantung, lebih baik berhati-hati dalam memilih metode seduh kopi yang lebih ramah jantung.(*)





