Petani Sungai Merdeka Mohon Presiden Prabowo Enklave Lahan Tahura: “Kami Ingin Hidup Tenang”

FRASA.ID,KUTAI KARTANEGARA – Harapan besar disampaikan petani di Kelurahan Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja Barat, kepada Presiden Prabowo Subianto terkait persoalan lahan yang telah puluhan tahun mereka garap dan kini masuk dalam kawasan Taman Hutan Raya (Tahura).

Salah seorang petani, Saswoko, meminta pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap nasib masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian. Menurutnya, usulan agar sebagian kawasan Tahura di Sungai Merdeka dienklave atau dikeluarkan dari kawasan hutan telah lama diajukan, namun hingga kini belum mendapat kepastian.

Baca juga  Malam Puncak Bulan Bung Karno di Kukar, Edi-Rendi Nikmati Tahu Tek-tek dan Bakso

“Harapan saya kepada Bapak Presiden Prabowo, mohon memberikan perhatian terhadap persoalan ini. Lahan tersebut sudah lama diusulkan untuk dienklave dari kawasan Tahura, tetapi prosesnya selalu mandek. Kami berharap Bapak Presiden memberikan kelonggaran agar wilayah Tahura di Sungai Merdeka, Kecamatan Samboja Barat, dapat dienklave sehingga masyarakat bisa hidup tenang dan tidak lagi merasa resah,” ujar Saswoko.

Ia menegaskan, lahan yang selama ini digarap masyarakat bukan hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga berkontribusi terhadap penyediaan bahan pangan bagi wilayah sekitar, termasuk sebagai penyangga kebutuhan pangan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Baca juga  Kejari Kukar Kembalikan Kerugian Daerah Kepada Pemkab Kukar Secara Simbolis

“Lahan yang kami garap juga menjadi bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan, termasuk untuk kebutuhan masyarakat di IKN ke depannya. Kami berharap hal ini juga menjadi pertimbangan,” katanya.

Saswoko menjelaskan, berbagai komoditas hortikultura ditanam oleh para petani di kawasan tersebut. Hasil panen itu menjadi sumber penghasilan utama sekaligus memasok kebutuhan sayuran bagi masyarakat.

Baca juga  Kukar Uji Coba Hydrant Kering untuk Permukiman Padat

“Yang saya tanam antara lain jagung manis, cabai, tomat, terong, timun, dan berbagai jenis sayuran lainnya,” ungkapnya.

Menurut Saswoko, perhatian pemerintah terhadap keberadaan petani yang telah lama mengelola lahan secara produktif diharapkan dapat menjadi solusi atas persoalan yang selama ini dihadapi warga, sehingga mereka dapat terus bertani tanpa dibayangi rasa khawatir terhadap status lahan yang digarap.(*)

Bagikan: