Frasa.Id, Kutai Timur – Persaingan menuju gelar juara pada ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) C Bupati Open Kutai Timur 2026 semakin sengit menjelang partai final yang digelar di GOR Kudungga Sangatta, Sabtu (16/5/2026). Sejumlah klub papan atas nasional berhasil memastikan tempat di babak penentuan dan kembali menunjukkan dominasi mereka di turnamen tersebut.
Direktur Turnamen Sirnas C Bupati Open Kutim 2026, Aang Syahrudin, menyebut perebutan gelar juara tahun ini masih dikuasai atlet-atlet dari daerah yang selama ini dikenal memiliki pembinaan bulu tangkis kuat dan berjenjang.
Menurutnya, klub-klub asal Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Kalimantan Timur menjadi kekuatan utama yang mendominasi perjalanan menuju final.
“Sebagian besar yang lolos ke partai puncak berasal dari provinsi yang memang punya tradisi pembinaan kuat. Klub-klub besar mereka sudah terbiasa tampil di level nasional,” ujarnya saat ditemui di sela pertandingan, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan keberhasilan klub-klub elite tersebut tidak lepas dari sistem pembinaan yang berjalan konsisten. Mulai dari program latihan, kualitas pelatih, hingga banyaknya agenda kompetisi menjadi faktor penting dalam membentuk kualitas atlet.
“Pembinaan mereka memang sudah tertata. Atlet mendapat jam terbang tinggi karena rutin mengikuti kompetisi dan latihan yang intensif. Itu yang membuat kualitas permainan mereka lebih matang,” katanya.
Untuk wilayah Kalimantan Timur, Aang menilai kekuatan terbesar masih diperlihatkan klub-klub asal Balikpapan. Beberapa klub seperti PB Cahaya, PB Hevindo, dan PB Terpadu berhasil mengirim atletnya ke laga final dan menjadi wakil Kaltim yang tampil kompetitif di Sirnas C tahun ini.
Di sisi lain, ia menilai penyelenggaraan turnamen nasional di Kutai Timur menjadi kesempatan penting bagi atlet lokal untuk melihat langsung standar permainan atlet-atlet terbaik Indonesia di kelompok usia muda.
Walaupun wakil Kutim belum banyak mampu menembus babak final, pengalaman menghadapi pemain dari klub elite dinilai menjadi bagian penting dalam proses peningkatan kualitas atlet daerah.
Aang mengatakan pembinaan atlet membutuhkan proses panjang dan tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Karena itu, dibutuhkan dukungan bersama antara klub, PBSI, dan pemerintah daerah agar pembinaan dapat berjalan lebih maksimal.
“Kalau pembinaan dilakukan serius dan berkelanjutan, bukan tidak mungkin atlet Kutim nantinya bisa bersaing sampai ke final seperti klub-klub besar lainnya,” tuturnya.
Ia berharap Sirnas C Bupati Open 2026 dapat menjadi titik awal perkembangan bulu tangkis di Kutai Timur. Dengan semakin banyak turnamen dan peningkatan kualitas latihan, peluang atlet daerah untuk tampil lebih kompetitif di level nasional diyakini akan semakin terbuka pada masa mendatang.
“Target utamanya sekarang bagaimana pembinaan terus berjalan dan atlet mendapat lebih banyak pengalaman bertanding. Dari situ kualitas mereka perlahan akan terbentuk,” pungkasnya.






