SANGATTA — Ratusan organisasi kemasyarakatan (Ormas) di Kutai Timur mengikuti sosialisasi yang digelar Kesbangpol, namun bagi Wakil Bupati Kutai Timur, Mahyunadi, agenda tersebut tidak sekadar membahas administrasi organisasi.
Ia melihat Ormas sebagai pilar penting yang mampu memperkuat literasi kebangsaan dan menjadi benteng masyarakat dalam menghadapi arus disinformasi dan dinamika global yang semakin kompleks.
Suasana pertemuan awalnya santai, namun berubah tajam ketika Wabup mulai membahas konteks besar pembangunan nasional dan risiko geopolitik yang mempengaruhi Indonesia.
“Negara berkembang seperti kita biasanya terjebak dalam middle income trap dan sulit keluar,” jelasnya pada Selasa (18/11/2025).
Ia menilai kondisi tersebut bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga hasil dari lemahnya persatuan nasional.
Ketika masyarakat mudah terpecah oleh isu kecil, Indonesia akan sulit melangkah menjadi negara maju.
“Salah satu yang membuat kita terjebak adalah persatuan kita yang kurang bagus,” ucapnya.
Mahyunadi kemudian menyinggung bagaimana isu-isu sepele dapat dipelintir melalui framing media tertentu hingga menciptakan kegaduhan nasional.
Ia mengingatkan bahwa ada kepentingan asing yang bisa saja bekerja di balik penyebaran isu tersebut.
“Pertanyaannya, siapa yang mem-framing? Siapa yang biayai demo? Bisa jadi negara yang tidak ingin Indonesia maju,” ujarnya secara tegas.
Ia menjelaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran memiliki visi besar untuk membawa Indonesia keluar dari ketergantungan bahan mentah melalui hilirisasi industri.
“Pak Prabowo dan Pak Gibran tidak ingin lagi kita menjual barang mentah. Hilirisasi adalah masa depan,” tegasnya.
Di titik inilah, peran Ormas menjadi sangat strategis.
Mereka dianggap sebagai saluran informasi yang paling dipercaya masyarakat karena lahir dari lingkungan warga itu sendiri.
Ormas mampu meredam hoaks, menenangkan situasi, dan menyampaikan klarifikasi secara langsung.
“Ormas lahir dari masyarakat. Suara mereka lebih didengar oleh masyarakat,” katanya.
Wabup juga mengajak Ormas tetap kritis namun bertanggung jawab dalam menyampaikan pandangannya.
Kritik dianggap wajar selama tidak menimbulkan provokasi yang merusak tatanan sosial.
“Silakan sampaikan kritik, bahkan langsung ke saya. Yang penting jangan provokasi,” ungkapnya.
Selain menjaga stabilitas informasi, Mahyunadi juga menilai Ormas punya peran besar dalam penguatan masyarakat melalui program-program nyata, seperti ketahanan pangan dan kerja sama CSR sesuatu yang sudah berjalan di beberapa organisasi.
“Ini bukti bahwa Ormas bisa memajukan daerah,” tambahnya.
Ia menutup sambutan dengan optimisme bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari middle income trap dan menjadi negara maju pada 2045, asalkan kekuatan masyarakat sipil seperti Ormas ikut menjaga persatuan.
“Kalau kita solid dan bersatu, kita punya peluang besar menjadi negara maju,” pungkasnya. (ADV)





