Dinkes Kutim Perkuat Jejaring Kesehatan Desa, Kader Posyandu Jadi Garda Terdepan Pemantauan Stunting

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kutai Timur, Sumarno

SANGATTA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat strategi pengendalian stunting dengan menempatkan Kader Posyandu sebagai unsur kunci dalam jejaring kesehatan desa.

Peran Kader Posyandu dinilai semakin strategis seiring kebutuhan deteksi dini dan pendampingan gizi yang lebih merata hingga tingkat keluarga.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, menegaskan bahwa Kader Posyandu merupakan lini terdekat masyarakat dalam pemantauan kesehatan balita dan ibu hamil.

Baca juga  Mantapkan Standarisasi Perpustakaan, Kampung Pustaka GSU Jadi Wakil Balikpapan

“Kalau bicara pencegahan, Kader Posyandu ini yang paling dekat dengan warga. Mereka yang tahu kondisi balita dan ibu hamil secara langsung,” ujar Sumarno, Kamis (27/11/2025).

Dinkes Kutim kini memperdalam pelatihan bagi kader, mulai dari pengukuran antropometri yang benar, edukasi gizi keluarga, hingga pencatatan digital.

Langkah ini dilakukan agar data kesehatan di setiap posyandu lebih akurat dan intervensi dapat diberikan lebih cepat.

Pada momentum peringatan HKN Ke-61, Dinkes Kutim mengunpulkn ribuan kader dari berbagai kecamatan untuk diberi pelatihan singkat, dan penyuluhan terpadu untuk lebih terlibat dalam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas).

Baca juga  Pemkab Kutim Buka Penerimaan PPPK

Sumarno mengataka langkah ini merupakan bagian dari upaya menyamakan standar kompetensi kader di seluruh wilayah Kutim.

Ia juga menekankan jika penurunan stunting tidak cukup mengandalkan fasilitas kesehatan formal. Kader Posyandu dan partisipasi masyarakat memegang peranan penting dalam memutus masalah sejak hulu.

Sejumlah desa seperti Miau Baru, Tepian Langsat, dan Long Mesangat menunjukkan peningkatan dalam ketepatan pelaporan dan kualitas pendampingan gizi.

Baca juga  Kecamatan Melak Gelar Seleksi Ketat Pemain Sepak Bola Jelang Bupati Cup 2025

Selain memperkuat pelatihan, Dinkes Kutim memperluas penggunaan aplikasi pemantauan kesehatan berbasis real-time. Teknologi ini memudahkan tenaga kesehatan membaca situasi stunting per desa secara lebih cepat dan akurat.

“Data yang lebih rapi dan pemantauan yang konsisten membuat intervensi dapat dilakukan lebih terarah,” sebutnya. (Adv)

Bagikan: