Penyambung Lidah Rakyat”, Cara Rahmat Dermawan Merawat Ingatan dan Amanah Politik

FRASA.ID, TENGGARONG – Bagi sebagian orang, satu tahun menjabat sebagai anggota legislatif mungkin hanya dicatat dalam laporan kinerja. Namun bagi Rahmat Dermawan, perjalanan itu justru diabadikan dalam bentuk yang lebih emosional: sebuah film.

Anggota Komisi II DPRD Kutai Kartanegara tersebut merangkai potongan kisah pengabdiannya menjadi film berjudul Penyambung Lidah Rakyat. Sebuah judul yang bukan sekadar nama, melainkan refleksi dari komitmen yang ia gaungkan sejak masa kampanye.

Menurut Rahmat, film itu bermula dari inisiatif relawan dan timnya yang selama ini setia mendokumentasikan berbagai aktivitasnya. Dari menerima keluhan warga, mengawal program pemerintah, hingga memastikan masyarakat bisa mengakses fasilitas pembangunan—semuanya terekam.

“Dokumentasi itu awalnya hanya arsip kegiatan. Tapi kemudian kami merasa ada cerita besar yang bisa dirangkai, bukan hanya tentang saya, tapi tentang bagaimana amanah dijalankan,” ujarnya.

Baca juga  Kolaborasi Pemkab Kukar Gelar Gerakan Pangan Murah, Emak-emak Borong Bapok

Dalam film tersebut, Rahmat tidak hanya menampilkan aktivitas formal sebagai legislator. Ia juga membuka lembaran perjalanan hidupnya sebelum duduk di kursi dewan. Latar belakang keluarga sederhana menjadi bagian penting dari narasi.

Ia tumbuh dari keluarga non-politisi. Ibunya seorang pedagang, ayahnya petani. Kehidupan yang jauh dari gemerlap kekuasaan justru membentuk sudut pandangnya tentang arti keberpihakan.

Istilah “penyambung lidah rakyat” sendiri memiliki akar cerita yang kuat dalam hidupnya. Ia mengaku terinspirasi dari buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang mengisahkan perjuangan Soekarno. Buku itu diberikan oleh mentornya, Muhammad Samsun, dan menjadi bacaan yang berulang kali ia dalami.

Baca juga  DiskopUKM Kukar Petakan 40 Ribu Lebih UMKM, Verifikasi Lapangan Terus Dikebut

“Dari sana saya memahami bahwa politik seharusnya menjadi alat perjuangan untuk rakyat, bukan sekadar alat kekuasaan,” katanya.

Film Penyambung Lidah Rakyat kini telah rampung diproduksi. Trailer-nya sudah beredar, dan agenda nonton bareng tengah dipersiapkan usai Lebaran. Empat kecamatan di daerah pemilihannya—Samboja, Samboja Barat, Muara Jawa, dan Sanga-Sanga—akan menjadi lokasi pemutaran perdana.

Kegiatan tersebut akan melibatkan tokoh masyarakat, kelompok warga, hingga pemuda setempat. Rahmat ingin film itu menjadi ruang pertemuan, tempat gagasan dan harapan dibicarakan bersama.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa film tersebut juga memuat pesan edukasi politik. Di dalamnya digambarkan bagaimana proses kebijakan berjalan dan bagaimana seorang pejabat publik mempertanggungjawabkan amanahnya.

Baca juga  Dinsos Kukar Salurkan Alat Bantu, Buka Jalan Kemandirian Penyandang Disabilitas

Rahmat berharap, khususnya generasi muda pesisir, dapat melihat politik dari sudut pandang yang lebih dewasa.

“Baik buruknya kebijakan yang kita rasakan hari ini adalah hasil dari keputusan politik sebelumnya. Karena itu, politik tidak boleh dipilih secara sembarangan,” tegasnya.

Ia mengibaratkan politik seperti pisau—bisa bermanfaat, bisa pula melukai. Semua tergantung pada integritas orang yang memegangnya.

Lewat film ini, Rahmat Dermawan ingin meninggalkan satu pesan utama: bahwa politik sejatinya adalah tentang keberanian menyuarakan aspirasi dan kesetiaan menjaga amanah rakyat.(*)

Bagikan: