Ketegangan Trump dan Eropa Picu Kekhawatiran Masa Depan NATO

NASIONAL, FRASA.ID-Aliansi NATO kembali menghadapi ujian berat di tengah meningkatnya ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa, menyusul dinamika konflik global terbaru.

Dilansir Reuters, kekhawatiran terhadap masa depan aliansi pertahanan transatlantik itu mencuat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan kritik keras kepada sekutu Eropa. Trump bahkan disebut tengah mempertimbangkan kemungkinan menarik AS dari NATO.

Pernyataan tersebut muncul setelah negara-negara Eropa tidak mengirimkan kekuatan laut untuk membantu membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz, pasca meningkatnya konflik antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari lalu.

Dalam wawancara dengan Reuters, Trump mempertanyakan komitmen sekutu. Ia menilai NATO tidak bisa terus berjalan dengan pola “satu arah”, di mana AS menanggung beban terbesar tanpa dukungan sepadan dari anggota lain.

Baca juga  Lawan Hoaks dan Lindungi Wartawan, Kejaksaan RI Teken MoU dengan Dewan Pers

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan diplomat dan analis bahwa komitmen pertahanan bersama NATO—yang selama ini menjadi pilar keamanan Eropa—tidak lagi dapat dianggap pasti.

Sejumlah pihak menilai situasi saat ini sebagai salah satu periode paling kritis sejak NATO berdiri pada masa Perang Dingin. Ketidakpastian semakin terasa di Eropa yang selama ini bergantung pada payung keamanan AS, terutama dalam menghadapi ancaman dari Rusia.

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte sebelumnya sempat menepis gagasan Eropa bertahan tanpa AS. Namun kini, wacana tersebut mulai dipertimbangkan secara serius oleh sejumlah pejabat.

Baca juga  Otorita IKN Perkuat Langkah Pencegahan Tindak Pidana di Hunian Pekerja Konstruksi IKN dengan Sosialisasi Terpadu

Di sisi lain, pejabat Eropa membantah tudingan kurangnya kontribusi. Mereka menyebut tidak ada permintaan spesifik dari AS terkait dukungan militer di Selat Hormuz, serta menilai komunikasi Washington tidak konsisten.

Ketegangan juga tercermin dalam pertemuan negara-negara G7, di mana terjadi perdebatan tajam antara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas terkait pendekatan terhadap Vladimir Putin dan perang di Ukraina.

Secara hukum, langkah AS untuk keluar dari NATO tidak mudah dilakukan karena memerlukan persetujuan mayoritas besar Senat. Namun, analis menilai presiden tetap memiliki kewenangan menentukan apakah militer AS akan membela sekutu, yang pada praktiknya dapat melemahkan aliansi.

Baca juga  OIKN: Pembangunan IKN Sesuai Target, Total Investasi Mencapai Rp47,5 Triliun

Meski demikian, sebagian diplomat melihat pernyataan Trump sebagai tekanan politik yang masih bisa berubah, mengingat sikapnya terhadap NATO pernah berfluktuasi.

Pengamat menilai, terlepas dari bagaimana dinamika ini berakhir, hubungan transatlantik yang telah terjalin selama puluhan tahun kemungkinan tidak akan kembali seperti sebelumnya. NATO diperkirakan tetap bertahan, namun dengan bentuk dan peran yang berbeda di masa depan.(*)

Bagikan: