FRASA.ID, TENGGARONG-Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tengah menjajaki rencana pembangunan pusat perbelanjaan dan bioskop sebagai bagian dari upaya membuka pusat pertumbuhan ekonomi baru. Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin mengatakan, proses tersebut merupakan tindak lanjut dari sejumlah pertemuan dengan manajemen pengembang, termasuk pertemuan yang berlangsung di Jakarta.
“Survei pembangunan mal ini merupakan tindak lanjut dari beberapa kali pertemuan kami dengan manajemen developer, termasuk pertemuan di Jakarta,” ujar Rendi Solihin.
Rendi menyebut, salah satu pengembang yang menunjukkan minat serius untuk masuk ke Kukar adalah Pakuwon Group, perusahaan properti berskala nasional yang dikenal mengembangkan berbagai konsep pusat perbelanjaan. Pakuwon memiliki portofolio City Mall, City Centrum, hingga Park Mall yang saat ini baru beroperasi di Surabaya dan Jakarta.
“Jika berjodoh, developer yang berencana masuk ke Kukar adalah Pakuwon Group, salah satu pengembang besar di Indonesia,” katanya.
Kehadiran City Mall Pakuwon di sejumlah kota besar, termasuk yang baru dibangun di Bontang, menjadi salah satu gambaran model investasi yang berpotensi diterapkan di Kukar. Namun, berbeda dengan skema di Bontang, Pakuwon disebut tengah mencari lahan untuk dibeli secara langsung, bukan disewa.
“Pakuwon saat ini mencari lahan untuk dibeli, bukan disewa seperti yang mereka lakukan di Bontang. Ini menunjukkan keseriusan mereka untuk berinvestasi di Kutai Kartanegara,” ujar Rendi.
Menurut Rendi, investasi pusat perbelanjaan dan bioskop berpotensi memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah. Dari sektor bioskop saja, kontribusi terhadap pendapatan daerah diperkirakan bisa mencapai sekitar Rp2 miliar per tahun. Selain itu, satu unit mal standar diproyeksikan mampu menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja.
“Dari sektor bioskop saja, potensi kontribusi pendapatan daerah bisa mencapai sekitar Rp2 miliar per tahun. Satu mal standar juga bisa menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja, dan tentu akan kami prioritaskan untuk masyarakat lokal,” ucapnya.
Saat ini, fokus pemerintah daerah adalah menyiapkan dan menawarkan lokasi yang dinilai paling sesuai bagi pengembangan pusat ekonomi baru tersebut. Soal nilai investasi dan proyeksi keuntungan, Rendi menegaskan, hal itu sepenuhnya menjadi perhitungan internal pihak pengembang sesuai dengan target pasar yang mereka bidik.
Pemkab Kukar, lanjut Rendi, tidak ingin pembangunan pusat perbelanjaan baru justru menggeser atau mengganggu peran Pasar Tenggarong yang selama ini menjadi pusat perekonomian masyarakat. Karena itu, pengembangan diarahkan ke wilayah lain agar pertumbuhan ekonomi lebih merata.
“Kami tidak ingin mengganggu Pasar Tenggarong sebagai pusat perekonomian yang sudah ada. Kami ingin membuka pusat ekonomi baru di wilayah lain,” ujarnya.
Dua lokasi yang ditawarkan kepada pengembang yakni kawasan Craf dan Jongkang. Dari dua opsi tersebut, kawasan Craf disebut menunjukkan tingkat ketertarikan yang cukup tinggi dari pihak pengembang, meski hingga kini masih dalam tahap penghitungan kelayakan lokasi.
“Ada dua titik yang kami tawarkan, yakni di kawasan Craf dan Jongkang. Untuk kawasan Craf, ketertarikan developer cukup tinggi, namun masih dalam tahap penghitungan kelayakan lokasi,” pungkas Rendi.





