FRASA.ID, KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus berupaya untuk mengeliminasi penyakit HIV/AIDS.
Sebagaimana diketahui bahwa HIV/AIDS merupakan satu dari tiga penyakit menular yang memiliki prioritas utama dalam penanganan baik itu daerah maupun nasional.
Status penyakit prioritas adalah penyakit yang ditetapkan oleh World Health Oeganization (WHO) sebagai penyakit yang memiliki potensi kedaruratan kesehatan masyarakat.
“Jadi ada tiga penyakit prioritas yang perlu penanganan maksimal dan efektif baik di tingkat daerah maupun nasional penyakit tersebut salah satunya adalah HIV/AIDS,” ucap Bahrani Hasanal, Kepala Dinkes Kutim, Jumat (22/11/2024).
Di Kutai Timur sendiri Dinkes Kutim menetapkan Odhiv baru sebanyak 271 kasus akan tetapi dari rentang waktu Januari hingga September 2024 terdapat 110 kasus.
Dari 110 kasus yang sudah ada tersebut capaian pengobatan yang dilakukan oleh Dinkes Kutim sebesar 79 persen atau Odhiv on art sebanyak 87 pasien.
Hal tersebut sudah cukup tinggi dalam capaian penanganan penyakit HIV/AIDS sebab target nasional HIV/AIDS harus eliminasi pada tahun 2030, sehingga pihaknya terus mengupayakan berbagai cara agar sebelum tahun tersebut Kutim sudah eliminasi.
“Target nasional untuk penyakit HIV/AIDS itu tahun 2030 harus eliminasi, tapi kita upayakan agar menekan jumlah kasus yang tercatat, sampai saat ini sudah 79 persen kita obati” tambahnya.
Lebih lanjut saat ini tantangan Dinkes Kutim sendiri yakni pandangan dan penilaian masyarakat terhadap penyakit HiV/AIDS.
Sebab masyarakat yang terkena HIV/AIDS enggan melapor ke Fasilitas Kesehatan (Faskes) terdekat dikarenakan mereka takut dan malu selain itu ada konsekuensi tersendiri dari lingkungan ataupun tempat kerja.
“Saat ini dari banyaknya kasus yang tercatat kebanyakan itu pekerja di perusahaan atau memang tinggal di sekitar perusahaan dan mereka tidak melapor jadi kita ada kendala dalam skrining masyarakat lainnya,” tambahnya.
Ia menjelaskan penyebaran penyakit HIV/AIDS melalui darah atau bersentuhan secara langsung, dan gejala awalnya adalah demam, sakit tenggorokan, dan kelelahan.
“Penyakit ini salah satunya akibat bergonta ganti pasangan, dan pola hidup tidak sehat jadi harapannya masyarakat bisa mulai hidup sehat sehingga kita bisa bersama-sama menekan penyebaran HIV/AIDS,” tutupnya.
Ia berharap semua pemangku kepentingan bisa bekerja sama dalam mengatasi dan menekan angka HIV/AIDS, terutama dengan perusahaan yang ada di Kutim agar melakukan pemeriksaan kesehatan atau memberikan edukasi tentang penyakit HIV/AIDS. (adv)





