Tantangan Kepramukaan di Kukar: Minim Pembina Bersertifikat, Dispora Genjot Pelatihan

FRASA.ID, KUTAI KARTANEGARA – Gerakan Pramuka di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tengah menghadapi sejumlah tantangan besar dalam upaya meningkatkan keaktifan dan kualitas kepramukaan di tingkat kecamatan.

Salah satu tantangan utama adalah terbatasnya jumlah pembina dan pelatih yang memiliki sertifikat kepramukaan dan kompetensi yang sesuai.

Kepala Bidang Kepramukaan Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kukar, Nopan Solihin, mengatakan bahwa meskipun kegiatan kepramukaan telah menjadi bagian dari kurikulum di sekolah-sekolah, namun banyak gugus depan yang masih tidak aktif.

Hal ini, menurutnya, disebabkan oleh kurangnya pembina yang memiliki sertifikasi resmi.

Baca juga  Kejari Kukar Kembalikan Kerugian Daerah Kepada Pemkab Kukar Secara Simbolis

“Seharusnya, gugus depan yang berada di sekolah-sekolah menjadi ujung tombak keaktifan kepramukaan. Namun kenyataannya, banyak yang belum aktif, dan pembina yang memiliki sertifikat juga sangat terbatas,” ujar Nopan, Kamis (17/4/2025).

Pentingnya pembina bersertifikat tidak bisa dipandang sebelah mata. Nopan menekankan bahwa tanpa adanya pembina yang memiliki sertifikasi, kegiatan kepramukaan bisa berjalan tidak sesuai dengan aturan dan pakem yang telah ditetapkan oleh Kwartir Nasional.

“Kepramukaan memiliki aturan yang jelas yang harus diikuti dalam setiap kegiatan. Tanpa pembina yang kompeten, gerakan ini bisa kehilangan arah dan tujuan utama untuk membentuk karakter pemuda yang disiplin dan bertanggung jawab,” tambah Nopan.

Baca juga  9 Juli 2023, Desa Batuah Bakal Gelar Event Buah Lai

Untuk mengatasi masalah ini, Dispora Kukar terus mendorong dan memfasilitasi pelatihan bagi tenaga pendidik di tiap kwartir ranting.

Pelatihan ini diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak pembina yang memiliki sertifikasi untuk memastikan kepramukaan di Kukar berjalan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Namun, Nopan juga mengungkapkan bahwa tantangan lain adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran di kalangan guru mengenai pentingnya pelatihan tersebut.

Banyak guru yang belum menyadari bahwa keikutsertaan dalam pelatihan merupakan investasi untuk kualitas kegiatan kepramukaan yang lebih baik.

Baca juga  SAPA 129 Hadir di Kukar: Suara Korban Kekerasan Kini Tak Lagi Sendiri

“Untuk itu, komunikasi dan sosialisasi yang lebih intensif sangat diperlukan. Kami juga harus lebih aktif dalam mengidentifikasi dan mengembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang ada, agar kegiatan kepramukaan di setiap gugus depan bisa berjalan lebih optimal,” tandas Nopan.

Dengan upaya yang lebih masif dalam pelatihan pembina, Dispora Kukar berharap gerakan kepramukaan dapat kembali bangkit dan lebih maksimal dalam membentuk karakter generasi muda yang tangguh dan berkualitas. (*)

Bagikan: