SANGATTA — Kisruh dualisme kepengurusan di beberapa organisasi pemuda di Kutai Timur kembali mencuat dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutim meminta seluruh organisasi pemuda untuk bersatu dan menyudahi perpecahan yang dinilai menghambat proses pembinaan maupun koordinasi resmi.
Kepengurusan ganda yang diduga terjadi pada organisasi besar seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) disebut semakin menyulitkan pemerintah dalam memberikan fasilitasi dan dukungan.
Kondisi ini menciptakan kerancuan karena dua kubu berbeda kerap mengklaim legitimasi yang sama.
Kepala Bidang Layanan Kepemudaan Dispora Kutim, Burhanuddin SY, menegaskan bahwa pemerintah pada dasarnya menginginkan organisasi kepemudaan berada dalam satu kepengurusan yang jelas.
“Kalau kita pemerintah, ya jangan dualisme. Maunya satu aja, jadi enak juga koordinasinya,” ujarnya pada Jumat (14/11/2025).
Ia menilai dualisme ini tidak hanya menciptakan kebingungan, tetapi juga memperlambat proses pembinaan.
Beberapa kali, pemerintah dihubungi oleh dua pihak berbeda yang masing-masing mengatasnamakan organisasi yang sama.
Hal ini membuat komunikasi tidak efektif dan rawan salah langkah.
Dualisme kepengurusan sendiri bukan fenomena baru dalam dunia kepemudaan Indonesia.
Konflik internal, perbedaan dukungan pusat, hingga dinamika politik sering menjadi pemicu terbelahnya organisasi menjadi dua kubu.
Namun di tingkat daerah, dampaknya dirasakan langsung oleh pemerintah yang harus memastikan bahwa program pembinaan berjalan sesuai aturan.
Burhanuddin menegaskan bahwa pemerintah hanya dapat melayani organisasi yang legal dan terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol).
Legalitas menjadi dasar agar sebuah organisasi dapat menerima fasilitasi kegiatan, pendanaan, maupun undangan resmi.
Namun demikian, Dispora Kutim tetap membuka ruang bagi semua organisasi pemuda untuk berkembang, selama mereka memiliki legalitas yang sah.
Burhanuddin juga mengingatkan bahwa dualisme tidak boleh menjadi alasan bagi pemuda untuk berhenti berkarya.
Ia berharap generasi muda Kutai Timur tetap fokus pada pengembangan diri dan kontribusi positif, seperti melalui berbagai program pelatihan kreatif yang tengah berlangsung, termasuk Pelatihan Stand Up Comedy yang saat ini digelar untuk meningkatkan kapasitas pemuda.
Dengan struktur organisasi yang lebih rapi dan koordinasi yang solid, Burhanuddin yakin program-program kepemudaan akan berjalan jauh lebih optimal ke depan.
Ia mengajak semua organisasi untuk kembali bersatu, memperkuat sinergi, dan mengutamakan kepentingan pemuda serta pembangunan daerah. (ADV)





