SANGATTA — Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Timur kini bergerak lebih agresif menyiapkan generasi muda menjadi komika dan konten kreator yang mampu bersaing di era industri kreatif.
Langkah itu diwujudkan melalui Pelatihan Stand Up Comedy yang digelar di Sangatta, menjadi pintu masuk bagi pemuda untuk meniti karier di panggung komedi maupun dunia digital.
Pelatihan ini menjadi salah satu strategi pemerintah daerah dalam membangun ekosistem kreatif yang kuat dan berkelanjutan.
Tidak hanya mengajarkan seni melucu, kegiatan ini juga diarahkan untuk membentuk kolaborasi, memetakan potensi bakat lokal, serta memperkuat jejaring antarpemuda kreatif.
Kepala Bidang Layanan Kepemudaan Dispora Kutim, Burhanuddin SY, menegaskan bahwa pelatihan ini adalah langkah awal untuk mencetak kreator-kreator muda dari Kutai Timur.
“Dengan teman-teman inilah yang ikut pelatihan ini bisa berkolaborasi bagaimana kita membuat kreator-kreator,” ujarnya usai pembukaan Program Pelatihan, Jumat (14/11/2025).
Menurut Burhanuddin, industri komedi dan digital di Indonesia terus berkembang pesat.
Banyak komika nasional hari ini berawal dari komunitas kecil yang secara konsisten tampil, berlatih, dan memproduksi konten.
Ia berharap Kutai Timur tidak tertinggal dan mampu ikut melahirkan talenta baru.
Pelatihan ini pun dirancang bukan sekadar pemberian materi teknis, tetapi sebagai wadah interaksi antarpeserta untuk membangun komunitas komedi lokal.
Para pemuda diajak membuat konten bersama, merancang acara open mic, hingga merencanakan pertunjukan kecil yang kelak bisa berkembang menjadi kegiatan budaya dan ekonomi kreatif.
Dua narasumber dari Samarinda dihadirkan untuk memberikan panduan nyata bagaimana memulai karier komedi dari nol.
Mereka berbagi tentang teknik dasar penulisan materi, membangun persona panggung, penggunaan media sosial sebagai portofolio digital, serta pentingnya konsistensi dalam berkarya.
Burhanuddin optimistis bahwa bila pemuda Kutim diberikan ruang dan bimbingan, mereka punya kemampuan untuk menembus panggung regional hingga nasional.
Karena itu ia berharap pelatihan semacam ini tidak berhenti menjadi agenda tahunan, melainkan berkembang menjadi komunitas produktif yang bergerak sepanjang tahun.
Ia menilai ekosistem kreatif yang kuat akan memberi dampak besar bagi daerah.
Talenta yang tumbuh akan menggerakkan banyak sektor, mulai dari event organizer, industri hiburan lokal, hingga produksi konten digital yang dapat menciptakan peluang ekonomi baru.
Dengan visi jangka panjang ini, pemerintah menempatkan kreativitas pemuda sebagai bagian fundamental dari masa depan Kutai Timur.
Pelatihan Stand Up Comedy ini hanyalah satu langkah awal menuju kabupaten yang ramah bagi kreativitas dan inovasi.
Burhanuddin menegaskan bahwa pintu selalu terbuka bagi pemuda yang ingin berkarya.
Dengan keberanian, kolaborasi, dan kesempatan yang tepat, ia yakin Kutai Timur akan melahirkan komika, konten kreator, hingga inovator digital yang membanggakan di masa mendatang. (ADV)





