Hadapi Lonjakan ISPA di Wilayah Tambang, Pemerataan Dokter Spesialis Jadi Prioritas Utama Pemkab Kutim

SANGATTA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) kini memberi perhatian serius terhadap meningkatnya masalah kesehatan masyarakat di wilayah tambang. Risiko polusi udara dan faktor cuaca membuat daerah-daerah tersebut menghadapi beban penyakit lebih berat, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang terus mendominasi data layanan kesehatan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, menegaskan bahwa upaya mengatasi masalah ini tidak bisa lagi mengandalkan layanan dasar saja. Pemerataan akses terhadap layanan dokter spesialis harus menjadi strategi utama.

“ISPA paling tinggi di wilayah timur karena faktor cuaca dan aktivitas tambang,” ujarnya, Rabu (26/11/2025).

Untuk menjawab kesenjangan layanan, Dinkes menurunkan dokter spesialis anak dan spesialis penyakit dalam langsung ke lapangan. Layanan keliling ini memungkinkan masyarakat mendapatkan pemeriksaan tanpa harus melakukan perjalanan panjang ke kota.

Baca juga  Pemkab Kukar Alokasikan 250 Miliar Untuk Pembangunan Tahap II Pasar Tangga Arung

“Hari ini ada dua spesialis yang kami hadirkan. Tujuannya agar masyarakat dapat pelayanan tanpa harus ke kota,” kata Sumarno.

Di sejumlah kecamatan seperti Sandaran dan Muara Ancalong, langkah ini menjadi sangat penting mengingat terbatasnya tenaga kesehatan tingkat lanjutan di puskesmas. Mobilisasi dokter spesialis dianggap sebagai intervensi cepat yang membantu menangani kasus-kasus berat yang sebelumnya sulit ditangani di daerah terpencil.

Salah satu perhatian utama pemerintah adalah tren kenaikan kasus ISPA di kawasan dengan aktivitas pertambangan. Polusi debu, perubahan cuaca ekstrem, dan tingginya mobilitas kendaraan angkutan tambang menjadi faktor pemicu utama.

Baca juga  70.986 Siswa SD dan SMP Negeri Akan Mendapatkan Seragam Gratis Dari Disdikbud Kutim

Sumarno menyebutkan bahwa pendataan kasus ISPA kini dilakukan lebih intensif, terutama di area terdampak polusi. Data ini digunakan untuk menentukan kebutuhan intervensi, penambahan tenaga kesehatan, serta penyesuaian program pencegahan di masing-masing kecamatan.

Program layanan spesialis keliling tidak berhenti di tahun ini. Dinkes Kutim merencanakan perluasan program hingga 2026 seiring peningkatan fasilitas dan anggaran. Penambahan tenaga kesehatan juga disesuaikan dengan kebutuhan tiap puskesmas, bukan lagi berdasarkan pola distribusi umum.

Kebijakan ini diharapkan dapat menutup ketimpangan layanan antara wilayah padat penduduk, pedalaman, dan wilayah industri.

Baca juga  Lapangan Desa Disulap Jadi Pusat Pembinaan Atlet, Dispora Kukar Gaet Talenta Muda

Selain layanan spesialis, masyarakat memanfaatkan pemeriksaan gratis seperti cek golongan darah, pemeriksaan gigi, dan donor darah. Antusiasme warga dinilai sebagai indikator bahwa kesadaran akan pentingnya deteksi dini mulai meningkat.

Dinkes juga menggelar edukasi Germas dan kampanye hidup bersih untuk memperbaiki perilaku kesehatan masyarakat. Menurut Sumarno, banyak penyakit kronis dan akut masih berakar dari pola hidup yang tidak sehat.

Sumarno menegaskan bahwa seluruh rangkaian program ini bukan kegiatan seremonial, melainkan upaya nyata memastikan keintegrasian layanan kesehatan di daerah, khususnya di wilayah yang menghadapi risiko lingkungan tinggi.

“Pemerintah ingin memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam akses kesehatan,” tegasnya. (Adv)

Bagikan: