Kutim Fokus Atasi ISPA, Dinkes Soroti Dampak Debu Tambang dan Cuaca Ekstrem

Suasana Pos Kesehatan di HKN Ke-61 di Kutai Timur

SANGATTA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) kini memusatkan perhatian pada salah satu masalah kesehatan yang paling sering terjadi di masyarakat yakni Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Dalam momentum peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-61, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim kembali menegaskan bahwa penanganan ISPA harus menjadi prioritas, mengingat tingginya kasus dan faktor risiko yang terus meningkat.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kutim, Sumarno, menyebut bahwa ISPA menempati posisi teratas kasus yang ditangani oleh Puskesmas maupun rumah sakit.

Dua faktor utama yang paling memengaruhi tingginya angka kejadian adalah aktivitas pertambangan dan cuaca yang tidak menentu.

Baca juga  Peletakan Batu Pertama Gereja Toraja Prima Sangatta Jadi Simbol Kekuatan Harmoni Kutai Timur

“Maksimum ISPA karena di sini pertama daerah tambang, kedua cuaca,” ungkap Sumarno, Rabu (26/11/2025).

Menurutnya, paparan debu dari aktivitas tambang menjadi penyumbang terbesar gangguan pernapasan masyarakat, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar area konsesi.

Sementara itu, cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir memperburuk kondisi pernapasan, sehingga membuat Kutim harus menaruh perhatian ekstra pada masalah ini.

Untuk menekan angka ISPA, Dinkes Kutim melakukan langkah menyeluruh, mulai dari edukasi, penyuluhan, pemeriksaan rutin di Puskesmas, hingga tindakan kuratif oleh tenaga kesehatan lapangan.

Baca juga  Muhammad Samsum Sebut Kaltim Mempunyai Potensi Jadi Lumbung Pangan

Dalam rangkaian HKN tahun ini, dokter spesialis penyakit dalam juga diterjunkan untuk memberikan pemeriksaan langsung kepada masyarakat.

Sumarno menegaskan bahwa pencegahan tidak kalah penting dibanding penanganan.

Edukasi mengenai penggunaan masker, kebersihan rumah, hingga pemeriksaan kesehatan berkala terus digencarkan, terutama bagi warga yang tinggal dekat aktivitas tambang.

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) kembali didorong untuk memperkuat daya tahan masyarakat terhadap penyakit berbasis lingkungan.

Kegiatan seperti kampanye hidup sehat, pemeriksaan massal, hingga gerakan minum susu menjadi bagian dari strategi Kutim membangun kebiasaan sehat sejak dini.

“Tujuannya adalah menyehatkan masyarakat dan membangun semangat untuk terus sehat,” tegas Sumarno.

Baca juga  Tuan Rumah BBGRM 2025, Kota Bangun Tunjukkan Tradisi Guyub yang Tetap Hidup

Sumarno menilai, persoalan ISPA tidak bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Perangkat desa, masyarakat, dan terutama perusahaan tambang harus terlibat aktif dalam pengendalian debu dan peningkatan kualitas udara.

Pemerintah daerah mendorong adanya kolaborasi melalui program CSR lingkungan serta standar kesehatan kerja bagi karyawan maupun warga sekitar.

Dengan rangkaian intervensi terpadu, mulai dari edukasi hingga penguatan pengawasan lingkungan Kutim menargetkan penurunan signifikan kasus ISPA pada 2026.

Upaya pencegahan sejak dini diharapkan menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi seluruh masyarakat. (Adv)

Bagikan: