FRASA.ID, TENGGARONG-Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan) Kutai Kartanegara (Kukar) menguji coba sistem hydrant kering sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan penanganan kebakaran di wilayah rawan, khususnya kawasan pesisir. Kepala Damkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengatakan uji coba ini dilakukan untuk menunjukkan langsung hasil tindak lanjut atas arahan Wakil Bupati Kukar Rendi Solihin.
“Kegiatan hari ini kami maksudkan untuk memperlihatkan langsung kepada Bapak Wakil Bupati hasil dari apa yang sebelumnya beliau sampaikan kepada kami,” kata Fida. Ia menjelaskan, arahan tersebut muncul setelah Rendi meninjau sejumlah permukiman pesisir dan melihat langsung kondisi kampung yang rentan jika terjadi kebakaran.
Menurut Fida, tantangan utama penanganan kebakaran di wilayah pesisir adalah keterbatasan sumber air. Air laut dan air payau tidak bisa digunakan sembarangan karena membutuhkan spesifikasi peralatan tertentu akibat kandungan garam. Sementara itu, jaringan PDAM memiliki kapasitas dan tekanan yang terbatas serta berbeda-beda di setiap wilayah.
“Kalau menggunakan PDAM, tekanannya juga tidak selalu mencukupi. Itu sebabnya kami mencari pola penanganan yang paling memungkinkan diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Damkarmatan Kukar kemudian berinisiatif mencari solusi teknis yang realistis. Fida menyebut, pihaknya sebenarnya telah memiliki mesin pompa, namun persoalan utama terletak pada jaringan pipa yang digunakan untuk menyalurkan air. Setelah melalui sejumlah pertimbangan, dipilihlah pipa dengan spesifikasi tertentu yang dinilai lebih aman dan tahan tekanan.
Hasil uji coba yang dilakukan dinilai cukup memuaskan. “Alhamdulillah, hasil uji coba hari ini di luar ekspektasi kami. Jarak aliran air bisa mencapai hampir satu kilometer dengan tekanan tertentu, dan menurut saya ini sudah berhasil,” kata Fida. Dengan capaian tersebut, sistem hydrant kering dinilai mampu menjangkau hingga dua RT di wilayah tertentu.
Fida menegaskan, sistem yang diuji tidak bersifat rumit. Hydrant kering dirancang sederhana dan manual, dengan prinsip utama memanfaatkan sumber air yang tersedia, mesin pompa yang sudah dimiliki, serta pipa berstandar yang memungkinkan distribusi air berjalan optimal.
“Ini bukan soal berharap atau mendoakan agar tidak terjadi musibah, tapi bagaimana kami sebagai aparat sudah siap dan mengantisipasi segala kemungkinan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa ketersediaan air merupakan kunci utama dalam penanganan kebakaran, terutama di kawasan yang selama ini dipetakan sebagai wilayah rawan.
Meski demikian, Fida mengingatkan adanya tantangan pada aspek perawatan. Ia berharap masyarakat tidak merusak atau mengutak-atik fasilitas hydrant kering yang telah dipasang. “Meski terlihat sepele, sistem ini menyangkut keselamatan banyak orang. Jika tidak berfungsi, kami tidak bisa menjamin penanganan kebakaran karena kapasitas air mobil pemadam sangat terbatas,” katanya.
Dengan sistem hydrant kering, Damkarmatan Kukar menilai pasokan air dapat terjaga selama sumber air tersedia dan bahan bakar mesin pompa mencukupi. Langkah ini diharapkan menjadi bagian dari upaya pencegahan dan kesiapsiagaan, agar penanganan kebakaran di kawasan rawan tidak lagi terkendala oleh keterbatasan air.





