Pesut Mahakam Tertua “Lion” Ditemukan Mati Bersimbah Darah, Populasi Kini Tinggal 65 Ekor

FRASA.ID,TENGGARONG – Kabar duka datang dari Sungai Mahakam. Seekor Pesut Mahakam tua bernama “Lion” ditemukan mati di wilayah Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Satwa langka yang diperkirakan berusia lebih dari 30 tahun itu kini tengah menjalani pemeriksaan untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Ketua Yayasan RASI, Danielle Kreb menjelaskan, bangkai pesut awalnya ditemukan warga di kawasan Kampung Baru, Desa Liang, sebelum akhirnya diamankan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

“Ditemukannya di Liang, yang disebut Kampung Baru wilayah Liang. Kemudian diamankan di TPI. Awalnya dia di sungai, kemudian masuk ke teluk kecil,” ujarnya.

Baca juga  Rendi Solihin Dapat Restu Pimpinan Pondok Pesantren Al Arsyadi KH Saifuddin Marzuki untuk PSU Pilkada Kukar

Setelah menerima laporan warga, tim Pokdarwis Pela yang berada paling dekat dengan lokasi langsung diminta melakukan pencarian dan evakuasi. Bangkai pesut kemudian dibawa menggunakan rakit milik Yayasan RASI menuju Stasiun Riset di Sangkuliman untuk dilakukan nekropsi atau pemeriksaan bedah bangkai.

“Dengan koordinasi bersama BKSDA, pesut diangkat ke lokasi yang paling tepat untuk dilakukan nekropsi karena fasilitas lingkungannya tersedia di stasiun,” katanya.

Pemeriksaan dilakukan oleh dokter dari TPHI Kalimantan Timur. Sejumlah sampel organ dan jaringan telah diambil untuk diuji lebih lanjut di laboratorium toksikologi dan kualitas perairan Fakultas Perikanan Universitas Mulawarman.

Baca juga  Hari Pertama, 45 Ribu Penonton dari Berbagai Daerah Serbu Kukarland Festival 2023

Menurut Danielle, usia pasti “Lion” sulit dipastikan karena studi foto identifikasi Pesut Mahakam baru dimulai pada tahun 1999. Namun, saat pertama kali teridentifikasi, pesut tersebut diperkirakan sudah dewasa.

“Yang jelas kami bilang mungkin di atas 30 tahun. Karena pesut bisa sampai umur 50 tahun,” ungkapnya.

Terkait penyebab kematian, Danielle mengatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan secara pasti. Dari pengamatan awal ditemukan luka lebam di bagian leher dengan kondisi yang cukup berdarah.

“Ada luka lebam di leher dan cukup menembus. Tapi harus diverifikasi apakah sampai ke otot atau tidak. Kalau memang dari luar, berarti ada benturan tumpul atau penyebab lain yang membuat dia seperti itu,” jelasnya.

Baca juga  Rendi Solihin Berpeluang Menang di PSU Kukar, Siapa Pun Pasangannya

Ia menambahkan, kepastian penyebab kematian baru dapat diketahui setelah hasil pemeriksaan histopatologi dan uji laboratorium keluar. Pemeriksaan tersebut mencakup kemungkinan adanya paparan logam berat, bahan kimia beracun, hingga mikroplastik.

“Biasanya hasilnya lebih dari sebulan karena mereka lakukan penelitian juga,” katanya.

Kematian “Lion” turut menambah daftar ancaman terhadap keberlangsungan Pesut Mahakam, mamalia air tawar endemik Kalimantan yang kini populasinya terus menurun.

“Kalau akhir tahun 2025 tercatat ada 66 ekor. Sekarang yang diketahui mati baru satu ini, jadi tinggal 65 ekor,” tutup Danielle.(*)

Bagikan: