Perjalanan Panjang Pendidikan Kutim: Dari Kekurangan Fasilitas ke Upaya Menghapus Anak Tidak Sekolah

Ilustrasi anak-anak di Kutai Timur pulang dari sekolah. (Ist)

SANGATTA Kutai Timur terus memperbaiki diri dalam memperkuat layanan pendidikan.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman mengajak seluruh peserta mengingat kembali titik awal pembangunan pendidikan di daerah ini sebagai cara memahami betapa besar perubahan yang telah dicapai.

Bupati menuturkan bahwa kondisi sekolah di Kutim sebelum pemekaran jauh dari memadai.

Dengan jumlah SMA sangat sedikit, akses menuju pendidikan lanjutan menjadi tantangan besar bagi masyarakat.

“Pada 1991 sampai 1992 itu SMA hanya ada dua dan salah satunya hibah dari perusahaan makanya kita tidak boleh lupa dari mana kita memulai,” terangnya pada Jum’at (21/11/2025).

Baca juga  Hari Ibu ke-96, Perempuan Pelopor Bangsa

Ia menjelaskan bahwa keterbatasan tersebut justru menjadi energi untuk membangun.

Dari masa ketika sekolah menengah hanya dua unit, Kutai Timur kini telah memiliki jaringan SMA, SMK, dan sekolah sederajat di berbagai kecamatan.

Menurut Ardiansyah, pemekaran wilayah menjadi 18 kecamatan adalah langkah penting yang mempercepat pembangunan sarana pendidikan.

Dengan wilayah yang lebih terstruktur, pemerintah dapat memfokuskan penyediaan sekolah sesuai kebutuhan lokal.

Tidak hanya soal sarana, Bupati juga mengingatkan bahwa komitmen anggaran telah menjadi pilar utama.

Kutai Timur sudah lama mengalokasikan 20 persen APBD untuk pendidikan, bahkan sebelum aturan nasional mewajibkannya secara tegas.

Baca juga  Kurangi Beban Kerja Petani, Rusmiati Genjot Perbaikan Irigasi dan Jalan Tani di Sangatta Selatan

Ia menyebut bahwa perubahan besar dalam dua dekade terakhir merupakan tanda bahwa daerah tidak hanya membangun fisik sekolah, tetapi juga berusaha memperbaiki kualitas layanan.

“Kalau kita lihat sekarang kondisinya jauh lebih baik artinya transformasi ini tidak boleh berhenti,” ujarnya.

Bupati menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini telah berubah. Fasilitas sudah lebih merata, namun masih ada anak-anak yang belum tersentuh layanan sekolah.

Di sinilah program Sitisek menjadi penting, sebagai jembatan antara pemerataan fasilitas dan pemerataan layanan pendidikan.

Baca juga  Keterbukaan Informasi Publik, Kutai Timur Siap Bersanding Dengan Balikpapan dan Samarinda

Program Sitisek dinilai mampu menemukan kasus anak tidak sekolah secara lebih akurat melalui pendataan dan pelacakan langsung di lapangan.

Dengan cara ini, masalah yang dulu tersembunyi kini dapat ditangani dengan lebih terstruktur.

Ardiansyah berharap seluruh elemen pemerintah daerah, mulai kecamatan, desa, hingga ketua RT, bisa bersama-sama menjaga konsistensi program ini agar tidak ada anak yang tertinggal.

kemajuan Kutai Timur hari ini adalah hasil perjalanan panjang, dan perjalanan itu masih harus diteruskan demi memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar. (ADV)

Bagikan: