Diskusi Publik BEM Unikarta, Natsir Hidayat Ajak Mahasiswa Produktif dan Berani Berinovasi

FRASA.ID, KUTAI KARTANEGARA-Diskusi Publik BEM Unikarta menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami tantangan generasi muda di tengah perubahan zaman. Dalam forum tersebut, pengusaha muda Muhammad Natsir Hidayat mengingatkan pentingnya membangun produktivitas, keberanian berinovasi, serta memanfaatkan waktu untuk menciptakan masa depan yang lebih baik.

Pesan itu disampaikan Natsir saat menjadi narasumber dalam diskusi publik yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Senin (28/9/2026) malam.

Mengusung tema “Saat Zaman Berubah, Pemuda Harus Apa?”, kegiatan yang berlangsung di kantin Unikarta tersebut mempertemukan mahasiswa dari berbagai organisasi untuk membahas peran generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, dan dinamika ekonomi.

Diskusi ini diinisiasi BEM Unikarta bersama BEM se-Kalimantan dan Forum Mahasiswa Hulu. Selain Natsir, Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Akbar Haka, turut hadir sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Natsir menyoroti kebiasaan sebagian anak muda yang masih menunggu kesempatan datang sebelum memulai sesuatu. Padahal, menurutnya, perubahan yang terjadi saat ini justru membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi dan menciptakan peluang secara mandiri.

Ia menilai mahasiswa perlu memiliki keberanian untuk keluar dari kebiasaan lama, mencoba pendekatan baru, serta tidak terpaku pada pola pikir yang membatasi ruang gerak mereka.

Natsir Hidayat: Waktu Adalah Nyawa

Salah satu hal yang menjadi perhatian Natsir dalam diskusi tersebut adalah cara mahasiswa memandang waktu. Ia menegaskan, waktu merupakan sumber daya yang tidak dapat diulang sehingga harus digunakan secara bijak untuk kegiatan yang memberikan manfaat.

Baca juga  Sekda Kukar Sambut Baik Investasi Pabrik Bahan Peledak di Muara Badak

“Waktu adalah nyawa,” tegasnya di hadapan peserta diskusi.

Menurut Natsir, kesempatan untuk belajar, bekerja, membangun relasi, maupun merintis usaha perlu dimanfaatkan sejak dini. Menunda-nunda rencana tanpa alasan yang jelas berpotensi membuat seseorang kehilangan momentum untuk berkembang.

Karena itu, ia mengajak mahasiswa membangun kebiasaan produktif melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten. Perubahan besar, menurutnya, dapat dimulai dari keberanian mengambil tindakan kecil yang selama ini tertunda.

“Pesan buat teman-teman mahasiswa, jangan bosan-bosan untuk melakukan perubahan, memiliki dobrakan-dobrakan atau sesuatu yang baru, yang sifatnya positif,” kata Natsir.

Ia juga menekankan bahwa produktivitas tidak semata-mata diukur dari banyaknya aktivitas yang dilakukan. Lebih dari itu, mahasiswa perlu memiliki tujuan yang jelas agar waktu dan energi yang digunakan dapat menghasilkan perkembangan nyata.

Teknologi Harus Menjadi Peluang, Bukan Hambatan

Selain persoalan waktu, perkembangan teknologi menjadi pembahasan penting dalam diskusi publik tersebut. Natsir mengingatkan mahasiswa agar tidak bersikap tertutup terhadap berbagai kemajuan teknologi yang terus mengubah cara manusia bekerja dan menjalankan aktivitas ekonomi.

Menurutnya, teknologi harus dipahami sebagai sarana yang dapat membantu meningkatkan kemampuan dan efektivitas kerja apabila digunakan secara tepat.

“Jangan anti terhadap perubahan khususnya di teknologi, jadi gunakanlah perubahan-perubahan di teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan secara positif,” ujarnya.

Pesan tersebut disampaikan seiring berkembangnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), otomatisasi, dan robotika yang mulai memengaruhi berbagai sektor pekerjaan.

Baca juga  400 Hektare Sawah Digarap, Desa Mulawarman Kukar Siap Bangkit Jadi Lumbung Pangan

Kondisi itu menuntut generasi muda untuk tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah. Mahasiswa juga perlu mengembangkan keterampilan praktis, kemampuan beradaptasi, serta kemauan untuk terus mempelajari hal-hal baru.

Natsir mendorong mahasiswa agar menjadikan perkembangan teknologi sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan dan meningkatkan daya saing, bukan sebagai alasan untuk berhenti bergerak.

Mahasiswa Diminta Mulai Menciptakan Peluang

Dalam kesempatan tersebut, Natsir turut mengajak mahasiswa mengembangkan pola pikir kewirausahaan. Ia menilai status sebagai mahasiswa bukan penghalang untuk mulai membangun usaha, mencari pengalaman, ataupun menciptakan kegiatan produktif yang memberikan nilai tambah.

Baginya, generasi muda perlu lebih jeli melihat kebutuhan di lingkungan sekitar. Dari persoalan yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, mahasiswa dapat belajar mengenali peluang dan merancang solusi yang berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan usaha maupun inovasi sosial.

Ia juga berharap mahasiswa tidak hanya menjadikan diskusi sebagai tempat bertukar gagasan, tetapi mampu menerjemahkan hasil pembicaraan menjadi tindakan yang terukur.

“Harapan saya mudah-mudahan setelah pasca kegiatan ini, teman-teman mau keluar dari zona-zona yang mungkin masih zona nyaman, kemudian melakukan suatu gerakan yang sebelumnya, ditunda-tunda,” kata Natsir.

Ia menambahkan, setiap mahasiswa sebaiknya memiliki target yang ingin dicapai, baik dalam waktu dekat maupun untuk rencana jangka panjang.

“Jadi ada satu tools atau goals yang ingin dicapai oleh teman-teman mahasiswa setelah dalam hal ini jangka pendek maupun jangka panjang,” lanjutnya.

Target tersebut diharapkan menjadi pijakan bagi mahasiswa untuk mengevaluasi perkembangan diri sekaligus menjaga konsistensi dalam menjalankan rencana yang telah dibuat.

Baca juga  Festival Eroh Bebaya Sukses Digelar di Yogyakarta, Rendi Solihin Akui Ikut Bangga

Pendidikan dan Produktivitas untuk Masa Depan Daerah

Lebih jauh, Natsir memandang peningkatan kapasitas pemuda sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah. Generasi muda yang memiliki keterampilan, kemandirian, dan produktivitas dinilai dapat memberikan kontribusi lebih luas, tidak hanya bagi kehidupan pribadi, tetapi juga bagi masyarakat.

Dalam konteks tersebut, pendidikan memiliki peran strategis sebagai fondasi untuk membentuk sumber daya manusia yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

Namun, proses pengembangan diri tidak berhenti pada pendidikan formal. Pengalaman organisasi, kegiatan sosial, keberanian mencoba hal baru, serta kemampuan membangun jejaring juga menjadi bagian dari proses pembelajaran yang perlu dimanfaatkan mahasiswa.

Diskusi publik bersama BEM Unikarta ini pun menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk merefleksikan kembali peran mereka di tengah perubahan yang terus berlangsung.

Melalui forum tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa tantangan zaman tidak cukup dihadapi dengan pengetahuan semata, tetapi juga membutuhkan inisiatif, kemampuan beradaptasi, dan keberanian mengambil langkah.

Pada akhirnya, pesan yang disampaikan Natsir menegaskan bahwa masa muda merupakan periode penting untuk membangun kebiasaan dan menentukan arah kehidupan. Waktu yang tersedia perlu dimanfaatkan untuk belajar, berkarya, serta menciptakan peluang sebelum kesempatan tersebut berlalu.

Diskusi itu diharapkan tidak berhenti sebagai pertukaran gagasan di ruang kampus, melainkan menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk mulai bergerak dan menghadirkan perubahan positif di lingkungan masing-masing.(*)

Bagikan: