TPS 3R Loa Kulu Jadi Sumber Pendapatan, Sampah Bernilai Ekonomi Tembus Rp9 Juta

FRASA.ID, KUTAI KARTANEGARA — Pengelolaan sampah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai diarahkan tidak hanya untuk mengurangi timbunan sampah, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Salah satu contohnya terlihat dari pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Kecamatan Loa Kulu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar, H. Slamet Hadiraharjo, mengatakan masyarakat di Loa Kulu telah terlibat langsung dalam pengelolaan dan pemanfaatan sampah yang masih memiliki nilai jual. Hasil pengolahan tersebut bahkan dipasarkan hingga ke Samarinda.

“Di Loa Kulu itu masyarakatnya sendiri yang kita berdayakan. Mereka sudah punya tempat untuk menjualnya ke Samarinda dan mendapatkan sekitar Rp8 sampai Rp9 juta bersih,” ujar Slamet kepada KutaiRaya.com, Jumat (2/10/2026).

Baca juga  Serapan Anggaran Dinas PU Kukar Ditarget 90 Persen Hingga Akhir 2023

Menurut Slamet, pola pengelolaan tersebut menjadi salah satu contoh bahwa sampah dapat dimanfaatkan kembali apabila proses pemilahan dan pengolahannya dilakukan dengan baik. Material organik maupun plastik dapat diolah menjadi sejumlah produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi.

“Yang didaur ulang itu sampah organik dan plastik. Produknya macam-macam, ada kompos, maggot, kemudian paving block, dan sampah yang masih mempunyai nilai ekonomis bisa dijual,” jelasnya.

DLHK Kukar saat ini mencatat sekitar delapan TPS 3R yang telah berjalan maupun masih dalam tahap progres di sejumlah wilayah. Di antaranya berada di Kecamatan Loa Kulu, Loa Tebu, Muara Muntai dan Kembang Janggut. Pemerintah daerah mendorong pengelolaan TPS 3R melibatkan masyarakat agar penanganan sampah dapat dilakukan sejak dari sumbernya.

Baca juga  Progres Program RTLH di Kelurahan Bukit Biru Kukar

Khusus di Loa Kulu, kapasitas pengolahan sampah mencapai sekitar lima ton per hari. Sampah yang masuk terlebih dahulu dipilah untuk menentukan material yang masih dapat dimanfaatkan, sementara sebagian residu juga kembali diolah menjadi material yang berguna.

Salah satunya melalui pemanfaatan residu untuk pembuatan paving block. Produk tersebut telah digunakan di sekitar fasilitas TPS 3R, termasuk untuk kebutuhan pembangunan pagar.

Baca juga  BNPB Pusat Turun ke Kutai Barat, Bupati Frederick Edwin Dampingi Tinjau Banjir di Muara Beloan

“Residu dari pembakaran itu dijadikan paving block. Dikumpulkan terlebih dahulu, kemudian dicetak dan sudah digunakan di sana,” kata Slamet.

Pemkab Kukar berharap model pengelolaan seperti di Loa Kulu dapat berkembang di wilayah lain. Selain berpotensi menekan volume sampah yang dibawa ke tempat pemrosesan akhir, keberadaan TPS 3R dinilai dapat membuka aktivitas ekonomi baru bagi kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaannya.

“Kita mengharapkan semuanya bisa seperti yang ada di Loa Kulu. Mudah-mudahan ini bisa terus berjalan,” pungkasnya.(adv/diskomkukar)

Bagikan: