Diabetes Melitus di Kukar Capai 25.520 Kunjungan, Dinkes Soroti Pola Konsumsi

FRASA.ID, KUTAI KARTANEGARA — Kasus diabetes melitus menjadi salah satu perhatian kesehatan masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar mencatat 25.520 kunjungan terkait diabetes melitus di seluruh puskesmas selama periode Januari hingga September 2026.

Jumlah tersebut merupakan data pelayanan di tingkat puskesmas dan belum termasuk kunjungan maupun penanganan pasien diabetes melitus di rumah sakit. Dinkes Kukar menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama karena pola konsumsi masyarakat masih banyak bersinggungan dengan makanan dan minuman tinggi gula serta karbohidrat.

Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufidah mengatakan, diabetes melitus tidak hanya berkaitan dengan faktor keturunan. Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari juga berpengaruh terhadap risiko penyakit tersebut.

Baca juga  Fokus Perbaikan Jalan dan Jembatan di Sebulu, Rendi Solihin: Kami Ingin Pastikan Kebutuhan Masyarakat Terpenuhi

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sumber gula hanya berasal dari gula pasir atau pemanis yang ditambahkan ke minuman. Kandungan karbohidrat dalam makanan seperti nasi juga perlu diperhitungkan dalam pola konsumsi harian.

“Jangan berpikir gula itu hanya didapat pada gula. Makanan, nasi misalnya, itu ada kandungan gulanya. Karbohidratnya juga ada kandungan gulanya,” kata Ismi.

Menurut Ismi, pengendalian konsumsi gula perlu dilakukan terhadap berbagai jenis minuman yang banyak dikonsumsi masyarakat. Es teh, minuman berbasis buah yang mendapat tambahan susu, hingga minuman boba disebut sebagai contoh yang perlu dibatasi.

Baca juga  Tak Hanya Padamkan Api, Disdamkar Kukar Kini Jadi Penolong Segala Situasi

Ia juga mengingatkan bahwa label atau bahan dasar buah pada suatu minuman tidak otomatis membuatnya rendah gula. Penambahan susu maupun pemanis dapat meningkatkan kandungan gula dalam minuman tersebut.

“Boba, jus pun yang katanya jus sehat karena itu buah, tapi ditambah susu. Nah, itu yang membuat tidak sehat,” ujarnya.

Data Dinkes Kukar juga menunjukkan diabetes melitus tidak hanya ditemukan pada kelompok usia lanjut. Sepanjang Januari hingga September 2026, kelompok usia 18–59 tahun tercatat sebagai kelompok dengan jumlah kunjungan tertinggi. Sementara itu, kelompok usia 60 tahun ke atas menyumbang sekitar 35 persen, dan terdapat 69 kasus pada kelompok usia 5–18 tahun.

Baca juga  Run Street Ramadan 2025 Besutan Dispora Kukar Sukses Besar

Ismi menjelaskan pengendalian diabetes penting dilakukan untuk menekan risiko komplikasi. Penyakit tersebut dapat berdampak terhadap sejumlah organ, termasuk jantung, ginjal dan mata, serta berpotensi menyebabkan kecacatan.

Di sisi lain, Dinkes Kukar melihat upaya pencegahan juga menghadapi tantangan dari lingkungan konsumsi masyarakat. Makanan dan minuman yang tinggi gula, lemak dan minyak dinilai lebih mudah dijumpai dibandingkan pilihan makanan sehat.

Karena itu, edukasi pola hidup dan konsumsi sehat perlu diperkuat sejak usia dini. Masyarakat juga didorong mengurangi asupan gula secara bertahap, termasuk ketika membeli makanan dan minuman di luar rumah, sebagai bagian dari upaya menekan risiko diabetes melitus di Kukar.(adv/diskomkukar)

Bagikan: