FRASA.ID, TENGGARONG — Erau Adat Kutai 2026 tidak hanya menjadi momentum pelestarian warisan budaya dan tradisi leluhur di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pelaksanaan pesta adat tahunan tersebut juga memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Selama pelaksanaan Erau Adat Kutai 2026 pada 20 hingga 27 September 2026, jumlah kunjungan wisatawan dan masyarakat diperkirakan mencapai sekitar 700 ribu orang.
Tingginya jumlah pengunjung turut meningkatkan aktivitas perdagangan di berbagai titik pusat kegiatan Erau. Pelaku UMKM dan usaha lokal pun merasakan peningkatan jumlah pembeli selama berlangsungnya festival.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar, Heriansyah, mengungkapkan rasa syukurnya atas tingginya antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan Erau tahun ini.
“Alhamdulillah perputaran UMKM juga luar biasa,” ungkap Heriansyah, Minggu (27/9/2026).
Menurut Heriansyah, angka sekitar 700 ribu pengunjung tersebut masih merupakan estimasi sementara. Pendataan dan survei secara menyeluruh akan dilakukan setelah seluruh rangkaian Erau Adat Kutai 2026 selesai.
Dengan demikian, jumlah kunjungan maupun dampak ekonomi yang ditimbulkan dari penyelenggaraan Erau masih berpotensi berubah setelah data resmi dikumpulkan dan dianalisis.
Erau Adat Kutai 2026 Dorong Perputaran Ekonomi
Bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar, keberhasilan Erau Adat Kutai 2026 tidak semata-mata diukur dari kemeriahan acara maupun jumlah masyarakat yang datang menyaksikan prosesi adat dan hiburan.
Dampak terhadap masyarakat, terutama pelaku ekonomi lokal, menjadi salah satu bagian penting dari keberhasilan penyelenggaraan festival budaya tersebut.
Heriansyah menyebut, tingginya kunjungan selama Erau memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan aktivitas usahanya.
Keramaian yang muncul selama sepekan pelaksanaan Erau membuat berbagai sektor usaha di sekitar lokasi kegiatan ikut bergerak. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan pendapatan dari meningkatnya kebutuhan pengunjung.
Menurutnya, kondisi tersebut sejalan dengan upaya Pemkab Kukar untuk membangun ekosistem budaya yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian tradisi.
Bangun Ekosistem Budaya di Kukar
Heriansyah menjelaskan, pemerintah ingin agar penyelenggaraan kegiatan budaya memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Konsep ekosistem budaya yang dimaksud adalah bagaimana sebuah pagelaran adat tidak berhenti sebagai kegiatan seni dan budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

“Harapan kita itu sebenarnya ingin menciptakan ekosistem budaya. Di mana pagelaran itu tidak hanya sebuah pagelaran, tetapi bisa memberikan efek yang luar biasa ke masyarakat,” tuturnya.
Melalui Erau Adat Kutai 2026, pelestarian tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Keterlibatan pelaku UMKM dalam momentum Erau menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Ketika kegiatan budaya mampu menghadirkan ruang usaha dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat, manfaat festival dapat dirasakan tidak hanya oleh penyelenggara maupun penonton, tetapi juga oleh warga yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
700 Ribu Pengunjung Masih Data Sementara
Estimasi 700 ribu pengunjung menjadi salah satu catatan penting dalam penyelenggaraan Erau Adat Kutai 2026. Namun, angka tersebut belum menjadi hasil akhir karena proses pendataan secara menyeluruh masih akan dilakukan.
Survei nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai jumlah pengunjung serta dampak ekonomi yang muncul selama pelaksanaan Erau.
Bagi Pemkab Kukar, data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan kegiatan budaya pada tahun-tahun berikutnya.
Tingginya antusiasme masyarakat dan wisatawan juga menunjukkan bahwa Erau memiliki daya tarik tidak hanya dari sisi tradisi dan sejarah, tetapi juga sebagai kegiatan yang mampu menggerakkan berbagai aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan perpaduan antara pelestarian budaya, kunjungan masyarakat, serta keterlibatan pelaku UMKM, Erau Adat Kutai 2026 menjadi salah satu momentum penting dalam pengembangan ekosistem budaya di Kutai Kartanegara.
Kesuksesan penyelenggaraan Erau pun diharapkan tidak berhenti pada kemeriahan acara, tetapi dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan memperkuat keberadaan budaya Kutai sebagai bagian dari identitas daerah. (adv/diskominfokukar)





