SANGATTA – Aula Hotel Royal Victoria Sangatta Utara dipenuhi para pemuda dalam Program Pelatihan Stand Up Comedy yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kutai Timur.
Di balik gelak tawa yang pecah saat narasumber memberi contoh materi, tersimpan berbagai cerita hidup anak muda yang berani mengolah keresahan menjadi komedi.
Dari sinilah tampak keunikan pelatihan ini bahwa humor bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang penyembuhan diri.
Pelatihan yang berlangsung hangat dan penuh interaksi ini memperlihatkan bagaimana seni stand up comedy mampu menjadi medium ekspresi yang dekat dengan perasaan manusia.
Kepala Bidang Layanan Kepemudaan, Burhanuddin SY, menegaskan bahwa seni berbicara tunggal ini tidak semata mengajarkan cara melucu, tetapi juga membentuk kepekaan terhadap emosi dan pengalaman hidup.
“Artinya kita melatih supaya anak-anak muda Kutai Timur ini bisa mendapat semacam ilmu bagaimana stand up comedy itu,” ujarnya pada Jumat (14/11/2025).
Bagi banyak peserta, panggung komedi menjadi ruang aman untuk menumpahkan keresahan secara positif.
Mereka membawa cerita yang selama ini hanya dipendam: pekerjaan yang stagnan, kisah cinta yang berakhir pahit, dinamika keluarga, hingga pengalaman pribadi yang sulit dilewati.
Dengan bimbingan dua narasumber dari Samarinda, mereka belajar mengubah semua itu menjadi materi yang membebaskan tawa yang lahir dari luka, namun dirangkai dengan cara yang menguatkan.
Para peserta diajarkan langkah demi langkah dalam membangun materi: merumuskan premis, melakukan observasi, memahami ritme, hingga mengeksekusi punchline dengan timing yang tepat.
Bagi sebagian pemuda, proses ini terasa seperti terapi.
Mereka belajar jujur pada diri sendiri, menghadapi pengalaman masa lalu dengan kepala tegak, dan menyampaikan cerita apa adanya tanpa takut dihakimi.
Suasana pelatihan yang santai namun penuh makna membuat banyak peserta merasa diterima.
Beberapa di antaranya bahkan mengaku baru menemukan keberanian untuk tampil di depan publik setelah bertahun-tahun diliputi rasa kurang percaya diri.
Tawa yang muncul bukan sekadar reaksi humor, melainkan tanda bahwa ada beban yang perlahan terangkat.
Burhanuddin berharap peserta terus mengekspresikan diri dan menjadikan pengalaman ini sebagai pijakan awal untuk berkarya.
Menurutnya, pemuda yang kreatif dan sehat secara emosional adalah modal besar dalam membangun Kutai Timur yang lebih maju.
Pelatihan ini sekaligus menjadi bukti bahwa komedi adalah alat pemberdayaan yang efektif.
Ia mengajarkan kemampuan berbicara di depan publik, melatih kecerdasan emosional, membangun kepekaan sosial, hingga menciptakan jaringan pertemanan baru.
Stand up comedy juga memberi ruang bagi para pemuda melihat hidup dari sudut pandang yang lebih ringan, kemampuan yang sangat berharga di tengah tantangan sosial dan ekonomi saat ini.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah mulai menempatkan kesehatan mental pemuda sebagai prioritas.
Seni komedi dijadikan jembatan untuk membentuk generasi yang lebih kuat, lebih optimis, dan lebih dewasa dalam mengolah emosi.
Di ruangan sederhana ini, mungkin saja sedang tumbuh talenta baru, komika, kreator digital, atau pemuda inspiratif yang menemukan kekuatannya melalui tawa. (ADV)





