FRASA.ID, TENGGARONG – Kecamatan Kota Bangun resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) ke-22 tahun 2025.
Camat Kota Bangun, Abdul Karim, menyambut penunjukan ini dengan antusias dan menyatakan kesiapan penuh untuk menyukseskan agenda tahunan tersebut.
“Penunjukan Kota Bangun sebagai pusat kegiatan BBGRM ke-22 adalah sebuah kehormatan bagi kami. Ini membuktikan bahwa nilai-nilai gotong royong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat di sini, dan kami siap menyambutnya dengan antusias,” ujar Karim.
Karim menjelaskan, gotong royong telah lama menjadi bagian dari budaya sosial masyarakat Kota Bangun. Warga terbiasa melakukan kerja bakti, memperbaiki jalan desa, membangun sarana ibadah, dan membersihkan lingkungan secara swadaya.
“BBGRM ini bukan hanya acara seremonial, tapi momentum untuk memperkuat jalinan sosial dan semangat kolektif membangun desa,” imbuhnya.
Pernyataan Camat Karim diamini oleh Tarmizi (48), Ketua RT di salah satu desa yang akan terlibat dalam BBGRM.
“Warga kami sudah terbiasa kerja bakti. Ada jalan rusak, kami gotong royong tambal. Kalau BBGRM nanti bisa memberi semangat lebih, tentu kami sambut dengan senang hati,” ujarnya.
Sementara itu, Nur Aini (36), anggota PKK dari Desa Loleng, menyatakan harapannya agar BBGRM bisa membawa perubahan positif, terutama di sektor kebersihan dan pemberdayaan perempuan.
“Kami ingin kegiatan ini tak hanya bersih-bersih, tapi juga ada pelatihan atau kegiatan untuk ibu-ibu. Jadi semangat gotong royong itu juga bisa hadir lewat pemberdayaan,” katanya.
Kecamatan Kota Bangun sendiri sudah melakukan berbagai persiapan, mulai dari koordinasi lintas desa, pelibatan lembaga kemasyarakatan, hingga penyiapan lokasi kegiatan inti.
Seluruh unsur masyarakat dilibatkan untuk memastikan acara berjalan lancar dan memberi dampak nyata.
“Kami tidak ingin hanya menjadi penyelenggara acara. Yang kami tekankan adalah bagaimana semangat gotong royong ini bisa terus tumbuh dan menjadi budaya kerja bersama di tengah masyarakat,” tegas Karim.
Ia juga meyakini bahwa gotong royong adalah kunci dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Di tengah keterbatasan anggaran, kerja bersama menjadi solusi yang memperkuat solidaritas antarwarga.
“Kalau semua bergerak bersama, maka sekecil apapun upaya yang dilakukan akan memberi dampak besar. Gotong royong adalah energi sosial yang harus terus kita jaga,” pungkasnya. (*)





