FRASA.ID, TENGGARONG – Peristiwa tanah longsor kembali mengguncang kawasan KM 28 Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, pada Kamis malam (24/4/2025).
Titik yang berada tak jauh dari jalan poros Balikpapan–Samarinda itu kembali amblas usai diguyur hujan deras.
Kejadian ini langsung viral di media sosial. Video dan foto-foto kerusakan tersebar luas dan memicu keresahan masyarakat, mengingat jalan tersebut adalah jalur vital penghubung dua kota besar di Kalimantan Timur.
Camat Loa Janan, Hery Rusnadi, langsung turun ke lokasi dan menegaskan pentingnya penanganan menyeluruh.
“Kami sangat prihatin. Ini bukan yang pertama. Kami mendorong agar ada kajian akademik menyeluruh sebagai dasar penanganan jangka panjang,” tegas Hery ,belum lama ini.
Menurut Hery, jalan di titik longsor masuk jaringan nasional, sehingga perbaikannya berada di bawah tanggung jawab BBPJN Kaltim. Meski begitu, Pemkab Kukar melalui Dinas PU telah melakukan langkah awal, seperti pemasangan rambu dan pengamanan area.
Warga setempat mengaku cemas dan khawatir kejadian serupa akan terus berulang. Nia, warga RT 25 Desa Batuah yang rumahnya hanya berjarak sekitar 50 meter dari titik longsor, menyampaikan rasa waswasnya.
“Setiap hujan deras, kami tidak bisa tidur tenang. Takut tanah tiba-tiba bergerak. Ini sudah berkali-kali terjadi, tapi belum ada solusi nyata,” keluh Nia.
Senada, Hendri, seorang pengemudi truk yang rutin melintas di jalur tersebut, mengungkapkan keresahannya. “Kalau malam hari, apalagi hujan, kami waswas melintas. Kadang tidak ada penerangan dan jalan bisa tiba-tiba amblas. Ini harus segera ditangani secara serius,” ujarnya.
Hery juga menyebut bahwa sebagian warga terdampak telah mengungsi sementara ke rumah keluarga mereka karena khawatir terjadi longsor susulan. Koordinasi dengan desa dan RT terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar mereka tetap terpenuhi.
Ia menambahkan bahwa pihak kecamatan mendorong dilakukannya kajian geologis oleh pihak kampus, seperti Universitas Mulawarman, untuk mencari akar permasalahan dan merancang solusi berbasis sains.
Dalam waktu dekat, DPRD Kukar dijadwalkan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan BBPJN, Dinas PU, dan perusahaan sekitar, guna membahas solusi jangka panjang atas rentetan kejadian serupa.
“Kami ingin ada kejelasan tanggung jawab, bukan sekadar tambal jalan. Masyarakat berhak atas rasa aman,” pungkas Hery.
Kini masyarakat Loa Janan berharap, langkah konkret segera diambil agar KM 28 tak lagi menjadi momok setiap musim hujan tiba. (*)





